Sabtu, 25 Februari 2012

Relakanlah segala sesuatunya, maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang baik bahkan yang terbaik Lho... Suer dech!!

Tidak ada salahnya kita mendambakan dan memimpikan kehidupan yang enak, aman, tenteram, damain dan sejahtera diesok harinya. Justru impian hidup yang demikian itu memang seharusnya ada dalam diri kita masing-masing untuk memacu diri menjadi pribadi yang baik. Namun, sadarilah kita tidak sedang hidup ditanah Syurga yang mana didalamnya hanya berisikan kebahagiaan atas segenap permintaan yang kita pinta menjadi kenyataan adanya, bahkan tanpa harus kita memintanya semuanya telah tersedia. Adalah saat ini kita sedang berperoses dan menikmati hidup ditengah pergolakan kehidupan dimuka bumi, adakalanya apa yang kita inginkan tidak tergapai. Tentu saja sangat mengecewakan, Bukan?

Tidak selamanya apa yang ada dalam impian saat ini akan menjadi kenyataan; perolehan terindah dikehidupan mendatang. Ini mengingatkan kita bahwa terkadang apa yang kita impikan tidak menutup kemungkinan mengalami “kegagalan” atau bahkan yang kita hadapi saat ini adalah sesuatu yang menampakkan wujudnya jauh dari harapan yang kita inginkan. Bahkan terkadang kita harus merelakan sesuatu yang berharga dalam hidup kita; kehilangan orang yang kita cintai (misalnya; Putus Hubungan Cinta), dimaki-maki oleh atasan saat bekerja, dan beragam wajah kesedihan lainnya.

Kita akan sangat mudah mengekspresikan perasaan bahagia saat mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi juga kita akan sangat mudah menampak wajah kesedihan saat kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup ini, atau bersedih hati kala mendapatkan ujian dan cobaan dari Sang Pencipta. Sudah menjadi rahasia umum diantara kita cara berespon demikian. Karena hal demikian itu sangatlah manusiawi. Namun tidakkah kita mencoba bercermin dari kehidupan Ayyub, seorang utusan tuhan yang dikenal akan harta dan kekayaannya yang berlimpah, pun juga kesalehan dan kejujurannya yang menghiasi dirinya dalam keseharian hidupnya.

Ayyub, sang utusan selalu menasihati diri untuk berpegang teguh kepada ajaran suci tuhan; Mensyukuri nikmat yang diberikan kepadanya dan tetap berpegang teguh pada janji-janji tuhan atas segala ragam peristiwa yang akan terjadi didepan sana. Kehidupan masa depan yang tidak seorangpun tahu seperti apa pastinya. Hanyalah menjadi rahasia tuhan, dan suatu waktu nanti kita tahu pelajaran apa yang ada setelah masa itu menjadi bagian didalam kekinian.

Mungkin kita akan berfikir bahwa tuhan tidak akan menimpakan masalah dan cobaan didalam kehidupan ini kepada mereka yang selalu taat kepada perintah-Nya layaknya Ayyub sang utusan. Namun dalam kenyataannya, Ayyub sang utusan mengalami masalah dan penderitaan luar biasa dalam hidupnya; dahulunya ia memiliki segudang harta benda yang tidak terhitung jumlahnya, namun kini semua ludes tak menyisakan sisa sedikitpun selain tubuh fisiknya, disamping itu pula ia kehilangan orang-orang yang dicintainya, bahkan tubuhnya digerogoti oleh penyakit yang belum pernah diderita oleh ummat manusia sebelumnya.

Tentu saja hal ini menjadi beban dalam hidup, betapa tidak, kehidupan yang dahulunya serba melimpah, apapun yang diinginkan akan tercapai tanpa perlu merepotkan diri untuk ini dan itu, namun kini semuanya musnah tanpa sisa. Namun anehnya, Ayub sang utusan tetap berpegang teguh pada pendiriannya untuk bersimpuh dan bersujud dihadapan Tuhan walau harus bergelimang penderitaan dan kesedihan luar biasa yang menimpa seluruh hidupnya.

Dalam keteguhan pendiriannya untuk memupuk konsistensi diri dalam memuji tuhan yang telah memberikannya karunia kehidupan, pun juga menimpakannya kesedihan. Kehidupan ayyub berubah drastis, suatu keajaiban yang menabjubkan terjadi, Allah telah sepenuhnya memulihkan kehidupannya dengan mukjizat luar biasa. Kehidupannya kini jauh lebih baik dari dahulunya, bisa dikata bahwa kemewahan hidup setelah penederitannya berlalu menjadi berlipat-lipat adanya.

Hidupnya penuh keberlimpahan, namun begitu, sikap kerendah hatian dan ketaatannya bertumbuh subur layaknya tumbuhan yang memiliki cukup unsur hara dalam menopang kehidupannya. Semua karunia yang diberikan kepadanya tidak membuat Ayyub sang utusan lupa diri, kesedihan yang menggerogoti seluruh asset hidupnya tak mampu membuat Iman dalam dirinya sirna tak bersisa. Justru iman dan yakin itu semakin bertumbuh dalam dirinya untuk tetap melantunkan pengagungan kepada Sang Pencipta.

Sahabat pembaca yang budiman. Mungkin saja hari ini, saat ini kita sedang mengalami kepedihan hidup sebagaimana yang Tuhan timpakan kepada Ayyub, Sang utusan. Ketahuilah, ragam permasalahan hidup yang menimpa saat ini bukanlah sebagai aib dalam hidup kita, bukan pula noda kehidupan yang membuat kita terhinakan. Namun sesungguhnya tuhan sedang menuntun kita untuk tetap mengingat-Nya disegala kondisi dan keadaan serta peristiwa kehidupan yang silih berganti didepan mata.

Marilah kita belajar untuk merelakan segala sesuatunya sebagaimana dahulunya kita mendapatkannya. Memang hal demikian itu bukanlah suatu yang mudah untuk kita jalankan ditengah kehdiupan ini, namun yakinlah bahwa sesungguhnya Allah akan memudahkan kita, karena iman dalam dada selalu berpusat pada pengharapan kepada welas asih sang Pencipta. Bukankah segala sesuatu dalam hidup ini dari-Nya dan akan kebali kapada-Nya? Dengan demikian, tuhan sedang mengajarkan kita “Keikhlasan” dalam hidup ini. akankah kita mengabaikannya, lantaran melihat segala sesuatunya sebagai tamparan yang menghinakan.

Relakanlah segala sesuatunya, maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang baik bahkan yang terbaik yang belum pernah terpikirkan dalam pikiran dan belum pernah terbayangkan dalam benak kita saat ini. kenapa harus takut, Bukankah Allah Maha mengetahui apa yang terbaik bagi kita, namun mengapa kita masih mencaci maki segala karunia yang diberikan-Nya? Uuuups, sorry dech Ya Allah. HambaMu ini telah Khilaf. Ampuni Yach. Okkey! Keep spirit for Our Life Better.

Salam satu Jiwa. Salam SEHAT JIWA untuk menggapai hidup bahagia.

Mustafid Amna Umary Erlangga Kusuma Perdana Saputra Zain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar