Salah satu
kendala terbesar manusia untuk bisa bertindak sebagai seorang pemenang
adalah kebimbangan dan kebingungan dalam dirinya untuk bersandar pada
sesuatu yang layak untuk menopang kehidupannya menjadi peribadi terbaik.
Kendala terbesar itu terletak pada penilaian terhadap sesuatu yang
dianggap layak menjadi motifasi terbaik menjadi seorang individu yang
pernah terlahir menjadi seorang pemenang yang handal. Kebanyakan manusia
tentu saja berharap motifasi dan dorongan dari orang lain, terlebih
lagi dari orang terdekat dan atau orang yang dicintai. Namun ternyata,
bersandar pada sesuatu yang suatu saat nanti akan sirna membuat manusia
kehilangan orintasi dalam menciptakan prestasi luar biasa dalam episode
kehidupannya, betapa banyak manusia yang telah larut dalam kesedihan
ketika pujian yang diharapkan dari orang yang dicintai tidak juga datang
menhampiri. Inilah problema yang banyak menghinggapi pikiran manusia.
Lantaran itu, manusia harus memiliki sebuah pilihan untuk memilih
sandaran yang tepat bagi kelangsungan hidupnya. Memilih bersandar kepada
sesuatu yang sirna ataukah kepada suatu yang memang layak menjadi
sandaran disetiap masa, yaitu tidak lain kepada Yang Maha Kuasa.
Hal ini menjadi suatu yang sangat penting sekali bagi kehidupan manusia sebelum menentukan pilihan yang tepat sebagai sandaran yang nantinya menopang kehidupannya setiap waktu untuk menjadi peribadi terbaik yang pernah ada. Bayangkan saja, bagaimana seandainya yang akan terjadi jika tempat bersandar sebelumnya yang selama ini kita harap-harapkan menjadi sumber motifasi telah hilang entah kemana dan atau ternyata tidak lagi memihak bagi kehidupan kita selama ini? Tentu saja menjadi masalah besar yang menghambat potensi untuk berkreasi, bukan?
Sahabat pembaca yang budiman. Ada sebuah pilihan dalam diri setiap orang untuk menentukan sikap terbaik dalam dirinya untuk mencari sandaran yang tepat, entah itu bersandar kepada-nya (nya; kecil; Pujian manusia) atau bersandar kepada-Nya (Nya; Besar; Tuhan). Inilah pilihan yang amat sangat sederhana, namun dalam kenyataannya banyak manusia telah salah arah dalam menentukan orientasi yang tepat sebagai bentuk kepedulian atas diri dan kehidupannya.
Begitulah kehidupan manusia pada umumnya. Jika saja mereka memilih untuk bersandar kepada-nya (nya; kecil; pujian, prestise, dll) maka sudah barang tentu akan menimbulkan pencitraan diri yang hanya berfokus pada sesuatu yang terlihat fatamorgana. Betapa tidak, kebanyakan manusia yang telah menjadikan pujian orang lain dan atau bersandar kepada sesuatu hal yang sebenarnya akan sirna menjadikan kehidupan mereka terombang-ambingkan entah kemana hingga cipta rasa untuk berkarya dan menciptakan sesuatu yang luar biasa pupus ditengah jalan. Berbeda halnya dengan manusia yang telah memilih untuk bersandar pada suatu memang layak sebagai sandaran dan penopang kehidupan untuk menciptakan kehidupan menabjubkan. Mereka yang telah sepenuhnya menyadari bahwa sandaran yang sejatinya menjadikan langkah kaki tegar dan kuat tidak lain adalah kekuatan yang terlahir dalam diri untuk kembali kepada sumber yang hakiki; yaitu Tuhan pemilik Semesta.
Ini mengingatkan kita satu hal. Jika saja prestasi terbaik yang terukir hanya semata-mata untuk mencitrakan diri terbaik dimata manusia, maka sepenuhnya apa yang menjadi hasil karya tidak lebih sebatas cara untuk bisa dikenal, tanpa memahami esensi dibalik kerja keras yang telah dituangkan diatas pentas kehidupan. Satu-satunya cara untuk bisa lepas dari kekangan pujian orang lain adalah kembali kepada pemahaman yang utuh bahwa semua kerja keras untuk mencitrakan diri menjadi peribadi terbaik lahir dari kemampuan untuk menyadarkan diri bahwa Tuhan dibalik semua ini, ada kekuatan lembut dari sang pencipta yang telah sepenuhnya menuntun jalan untuk meraih kehidupan yang mendamaikan. Tanpa dorongan kesadaran kepada tuhan dalam kehidupan, manusia akan kehilangan pendobrak semangat hidup yang essensial; yaitu Tuhan sumber inspirasi.
Ini adalah kesempatan emas untuk kita bisa melihat segala sesuatunya. Kekuatan eksternal yang selama ini hadir semata-mata adalah karunia untuk kita bisa berfokus kepada sumber Yang Mulia, bukan lagi berfokus pada sumber yang suatu saat akan hilang dan sirna. Bukan saatnya melemahkan diri ketika orang-orang yang pernah memuji lari kesana kemari, bukan pula mengharapkan sesuatu yang terlihat patamorgana, walaupun dalam kenyataannya faktor eksternal yang selama ini mendobrak kemajuan diri untuk terus berkreasi, semata-mata semua itu adalah cara tuhan untuk bisa mengingatkan kita jalan yang tepat untuk kembali. Yang menjadi tujuan utama dari semua itu tidak lain adalah sikap keberanian untuk menemukan diri dan mencari sandaran hakiki bagi penopang hidup yang tidak akan pernah lari dan meninggalkan kita sendiri, baik itu dalam pujian maupun uji.
Inilah Saatnya menemukan sandaran yang tepat agar tidak salah orientasi dalam mencipta dan berprestasi. Hiduplah dengan semangat mental yang kokoh agar tidak roboh suatu ketika pujian yang selama ini kita harapkan dari orang lain tidak pernah ada, justru yang terlahir adalah cemoohan. Layakkah kehidupan kita terombang-ambingkan kepada suatu hal yang nantinya menjadi sumber dari kemelekatan dan tangis penderitaan. Tentu saja tidak ada seorangpun yang mengharapkannya bukan? entah itu saya, anda dan juga mereka. Semua orang mengharapkan hidup dalam pembebasan yang membahagiakan. Soo, hanya Pujian dan karunia dari Tuhan jualah yang menjadikan kita bertumbuh dalam hidup yang membahagiakan. Keep spirit for our life better and slooow waaah.
Hal ini menjadi suatu yang sangat penting sekali bagi kehidupan manusia sebelum menentukan pilihan yang tepat sebagai sandaran yang nantinya menopang kehidupannya setiap waktu untuk menjadi peribadi terbaik yang pernah ada. Bayangkan saja, bagaimana seandainya yang akan terjadi jika tempat bersandar sebelumnya yang selama ini kita harap-harapkan menjadi sumber motifasi telah hilang entah kemana dan atau ternyata tidak lagi memihak bagi kehidupan kita selama ini? Tentu saja menjadi masalah besar yang menghambat potensi untuk berkreasi, bukan?
Sahabat pembaca yang budiman. Ada sebuah pilihan dalam diri setiap orang untuk menentukan sikap terbaik dalam dirinya untuk mencari sandaran yang tepat, entah itu bersandar kepada-nya (nya; kecil; Pujian manusia) atau bersandar kepada-Nya (Nya; Besar; Tuhan). Inilah pilihan yang amat sangat sederhana, namun dalam kenyataannya banyak manusia telah salah arah dalam menentukan orientasi yang tepat sebagai bentuk kepedulian atas diri dan kehidupannya.
Begitulah kehidupan manusia pada umumnya. Jika saja mereka memilih untuk bersandar kepada-nya (nya; kecil; pujian, prestise, dll) maka sudah barang tentu akan menimbulkan pencitraan diri yang hanya berfokus pada sesuatu yang terlihat fatamorgana. Betapa tidak, kebanyakan manusia yang telah menjadikan pujian orang lain dan atau bersandar kepada sesuatu hal yang sebenarnya akan sirna menjadikan kehidupan mereka terombang-ambingkan entah kemana hingga cipta rasa untuk berkarya dan menciptakan sesuatu yang luar biasa pupus ditengah jalan. Berbeda halnya dengan manusia yang telah memilih untuk bersandar pada suatu memang layak sebagai sandaran dan penopang kehidupan untuk menciptakan kehidupan menabjubkan. Mereka yang telah sepenuhnya menyadari bahwa sandaran yang sejatinya menjadikan langkah kaki tegar dan kuat tidak lain adalah kekuatan yang terlahir dalam diri untuk kembali kepada sumber yang hakiki; yaitu Tuhan pemilik Semesta.
Ini mengingatkan kita satu hal. Jika saja prestasi terbaik yang terukir hanya semata-mata untuk mencitrakan diri terbaik dimata manusia, maka sepenuhnya apa yang menjadi hasil karya tidak lebih sebatas cara untuk bisa dikenal, tanpa memahami esensi dibalik kerja keras yang telah dituangkan diatas pentas kehidupan. Satu-satunya cara untuk bisa lepas dari kekangan pujian orang lain adalah kembali kepada pemahaman yang utuh bahwa semua kerja keras untuk mencitrakan diri menjadi peribadi terbaik lahir dari kemampuan untuk menyadarkan diri bahwa Tuhan dibalik semua ini, ada kekuatan lembut dari sang pencipta yang telah sepenuhnya menuntun jalan untuk meraih kehidupan yang mendamaikan. Tanpa dorongan kesadaran kepada tuhan dalam kehidupan, manusia akan kehilangan pendobrak semangat hidup yang essensial; yaitu Tuhan sumber inspirasi.
Ini adalah kesempatan emas untuk kita bisa melihat segala sesuatunya. Kekuatan eksternal yang selama ini hadir semata-mata adalah karunia untuk kita bisa berfokus kepada sumber Yang Mulia, bukan lagi berfokus pada sumber yang suatu saat akan hilang dan sirna. Bukan saatnya melemahkan diri ketika orang-orang yang pernah memuji lari kesana kemari, bukan pula mengharapkan sesuatu yang terlihat patamorgana, walaupun dalam kenyataannya faktor eksternal yang selama ini mendobrak kemajuan diri untuk terus berkreasi, semata-mata semua itu adalah cara tuhan untuk bisa mengingatkan kita jalan yang tepat untuk kembali. Yang menjadi tujuan utama dari semua itu tidak lain adalah sikap keberanian untuk menemukan diri dan mencari sandaran hakiki bagi penopang hidup yang tidak akan pernah lari dan meninggalkan kita sendiri, baik itu dalam pujian maupun uji.
Inilah Saatnya menemukan sandaran yang tepat agar tidak salah orientasi dalam mencipta dan berprestasi. Hiduplah dengan semangat mental yang kokoh agar tidak roboh suatu ketika pujian yang selama ini kita harapkan dari orang lain tidak pernah ada, justru yang terlahir adalah cemoohan. Layakkah kehidupan kita terombang-ambingkan kepada suatu hal yang nantinya menjadi sumber dari kemelekatan dan tangis penderitaan. Tentu saja tidak ada seorangpun yang mengharapkannya bukan? entah itu saya, anda dan juga mereka. Semua orang mengharapkan hidup dalam pembebasan yang membahagiakan. Soo, hanya Pujian dan karunia dari Tuhan jualah yang menjadikan kita bertumbuh dalam hidup yang membahagiakan. Keep spirit for our life better and slooow waaah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar