Bingkisan Rindu Bagi Yang Tersayang
Hari
minggu di sepuluh hari awal di bulan pengibaran kesucian kemerdekaan
kebangsaan adalah awal pertama dalam hidupku untuk mendengar suara
indahnya, dialah sosok seorang wanita yang sebelumnya mengikrar bersama
lembaran pesan-pesan darinya dan termaktubkan secara halus di dalam
lembaran jiwa. Begitu singkatnya terasa waktu yang berjalan saat itu.
Tapi bagiku itulah awal yang mengisahkan segala perasaan yang aku miliki
untuk bisa lebih dekat melihat indahnya bunga mawar yang mengisi
taman-taman hati dan Bunga mawar putih itu pun selalu mekar dengan
hiasan yang indah bersama harumnya aroma yang mewarnai bunga tersebut.
Sejak tiga hari pasca momentum bait-bait kemerdekaan bangsa telah
terkumandangkan, diri ini mulai memberanikan diri untuk menyapanya,
Pesan singkat pun aku kirimkan di setiap waktu untuk mengisi pagi dan
malamnya sebagai kucuran bahasa perkenalan yang mengguyur panorama hati
yang saat itu lagi mengibarkan pesona indahnya dengan air-air kerinduan
di segenap tetesan yang telah merestui perkenalan ini, dan mekarnya pun
bersama bingkisan bunga kado cinta. Tak lupa pesan singkat itu aku
kirimkan untuk menemani aktifitasnya di bangku perkuliahan-di mana ia
menuangkan tinta-tinta kesadaran, menimba pengetahuan-pengetahuan baru
beralaskan kemantapan hati untuk mendengarkan rincian hikmah dari petuah
sang bijak.
Seiring waktu yang telah berlalu,
usaha yang telah terpatri di setiap dentingan waktu mencoba untuk
mengirimkan bahasa kerinduan, Namun Semua pesan itu tak ada satupun
balasan darinya untuk membalut kerinduan yang bersemayam di dalam dada.
Tapi semua itu tidak menyurutkan hati ini untuk bisa mengenalnya. Hari
demi hari berlalu, perjuangan hati ini terus mengalir laksana air sungai
yang membasahi setiap bebatuan di tengah sungai. Air itupun terus
mengalir hingga pada akhirnya ia harus sampai di muara penantian yang
tidak jauh dari lautan dan samudra kehidupan yang begitu luasnya.
Persimpangan-persimpangan di setiap aliran sungai mengantarkannya untuk
bisa sampai pada tujuan dan harapan yang ia semburkan dari sumber mata
air yang begitu suci. Airnya pun tak pernah lekang oleh waktu, sejuknya
pun membuat semua kehidupan menjadi lebih bermakna dan berseri berwarna
hijau, airnya pun mampu menghadirkan bunga di atas dedaunan hijau setiap
tumbuhan yang terairi aliran suci dari air sungai sebagai anugrah
terindah dari Tuhan Semesta alam.
Waktu pun berlalu, bulan
pun kini berganti. Tepatnya di awal bulan September tahun milladiyah,
pada hari rabu di pagi yang cerah secerah pesan semesta untuk
mengabarkan kebahagiaan, menghangatkan setiap kehidupan yang di
sinarinya, mampu menumbuhkan bibit-bibit baru dan menyegarkan
tunas-tunas kehidupan yang layak menempati kehidupan, itulah hari di
mana ketenteraman menyejukkan sukma. Hari rabu itu adalah awal yang
membuat hari-hariku menanti lebih terkesan di kehidupan selanjutnya.
Pagi itu ku tuliskan sebuah pesan singkat untuk menemani pagi harinya
dan untuk menemani senyum indahnya di setiap buliran waktu yang terus
berjalan di atas titian waktu di panggung kehidupan. Aku kiramkan pesan
ini untuknya di pagi itu, bunyi pesan itu yang masih terngiang dan
membekas di dalam bahasa otak serta masih terekam di dalam disc
kehidupan, pesan itu tidak lebih berbunyi sebagai berikut; “kita di
dunia ini tercipta untuk seseorang dan seseorang itu telah di utus tuhan
untuk menciptakan indahnya dunia untuk kita.”. Dan pada akhirnya satu
keajaiban terjadi, keajaiban yang di utus tuhan bersama sayap-sayap
malaikat cinta yang mengepakkan sayap ketulus ikhlasan, menanungi setiap
insan dengan balutan harapan dan kerinduan. Balasan pertama yang ku
terima dari pesan singkat yang selama ini telah banyak mengisi hari-hari
di kehidupan sosok bidadari, babak baru di mulai sebagai start awal
kehidupan yang menyeruak meneriakkan gegap gempita bahasa kemenangan,
priode zaman yang telah lama di nantikan kemerduan suara-suara nyaring
nan lembut, waktu itu di pagi yang sangat cerah-di mana mentari bebas
untuk menghangatkan seluruh jagad tanpa hadirnya awal-awan yang
menyelimuti di atas cakrawala semesta, moment itu adalah awal dalam
sejarah hidupku untuk bisa membaca setiap pesan yang ia kirimkan untuk
ku setelah perjuangan melelahkan aku kibarkan untuknya, demi meraih
simpati kasih dari hatinya dalam perhelatan jiwa.
Perjuangan
itu bagiku masih bukan berarti apa-apa di bandingkan harapan suci dalam
awal memulai perjuangan cinta dan kasih sayang. Saat itu Bahasa pesan
yang tertuangan di layar hanphone begitu bermakna. Pertanyaan yang ia
kirimkan mengesankanku untuk menjawab seruan hatinya dalam mengartikan
arti sebuah cinta. Awal yang tidak-di sangka-sangka dan sangat berharga
dalam hidupku. lima belas pesan yang telah aku terima sekaligus pembuka
pesan singkat darinya. Awal memulai hidup baru adalah kesiapan untuk
menerima segala manifestasi kemungkinan yang di tawarkan kehidupan bagi
setiap insan dan memiliki kemantapan dalam upaya untuk menepis segala
muslihat ketidak pantasan bagi apa yang telah di ikrarkan jiwa.
Perjalanan
melelahkan itupun tiada terasa dan tiada berarti di bandingkan dengan
impian yang terlukiskan. Jika hidup ini dihadapi dengan Tenang, senang
dan sabar. Maka lelah tidak akan terasa. Mulai dari awal bulan
September, sepuluh hari pertama di akhir penantian masa adalah merupakan
babak baru, percakapan di antara kami mulai terbuka satu sama lain
tentang peribadi masing-masing. Hingga pada suatu malam yang membuat
dirinya harus bercerita banyak tentang konflik yang di alaminya-di mana
kehidupan tidak menjinakkan diri di hadapannya, seolah-olah kehidupan
menjadikannya terkucilkan. Wanita suci itu pun meneteskan air mata di
saat ia mengolah rasa di balik segala bahasa curhatannya. Tidak cukup
malam itu, kisah yang mengesankan pun berlanjut di pagi hari dengan
irama bait-bait ceritra yang ia sampaikan dari mulut indahnya.
Kepercayaan itupun aku mencoba untuk menjaganya dan mencoba untuk
memberikan yang terbaik untuk dirinya. Solusi yang terbaik untuk
menengarai permasalahan yang ia alami berusaha ku lahirkan dari ide dan
pengalaman dan serangkaian konstruk pengetahuan yang aku miliki,
walaupun sangat terbatas. Berawal dari sharing dan berbagi cerita-cerita
singkat itulah kedekatanku dengan dirinya mulai terbuka bagaikan pintu
cakrawala yang terbuka untuk setiap burung-burung kehidupan yang
mengepakkan sayapnya di atas udara dan menari-nari bersama awan di atas
singgasana angkasa. Burung itu merasa bebas dan merasa menikmati
indahnya panorama alam yang terbentang luas tanpa batas.
Menjaga
kepercayaan memang begitu sulitnya untuk manusia yang begitu lemah
seperti diriku, tapi diri ini mencoba untuk bisa menjaga kepercayaan
yang telah ia pikulkan di atas pundak jiwa ini. Menjaga apa yang pernah
di amanatkan orang lain tidak lain penguat hati demi menjaga sebuah
kejujuran, entah apapun itu, baik sesuatu yang terlihat kecil dan
ataupun besar, sesuatu yang berbentuk ataupun tidak, semua itu adalah
sebuah amanah kehidupan untuk di pikul dan di jaga sebaik mungkin,
semampu jiwa untuk selalu mengisahkan rahasia sebagai bentuk
kerahasiaan, bukan untuk di umbar-umbar di dalam setiap lukisan ceritra
kebebasan kehidupan tanpa tapal batas. Sungguh celakalah jiwa jika yang
demikian itu menjadi sebuah pilihan hidup, tidak ada kepercayaan lagi
andai ada pesan kehidupan yang ingin di pikulkan baginya.
Perjalanan
dan perjuangan cinta tidak selalu mulus adanya, banyak sekali tantangan
dan hambatan yang menghiasi indahnya cinta. Justru di balik segala
kemelut kehidupan merupakan ujian untuk membuktikan kesetiaan dan
kekuatan cinta-sebatas mana ia mampu bertahan, seyogyanyalah kesabaran
yang menuntun jika keseluruhan puing bangunan cinta di harapkan bertahan
dan di berikan celupan hiasan kejujuran di setiap dinding-dindingnya.
Ia-Cinta akan selalu terjaga indah jika kesucian mewarnai pesona setiap
sisi-sisinya. Dengan tantangan dan hambatan sebagai penghiasnya membuat
ia semakin indah. Persimpangan jalan membuat insan harus membuat sebuah
kepastian dalam hidupnya. Begitulah kalimat yang mungkin tepat untuk
menceritrakan anugrah terindah dari tuhan tentang kalimat-kalimat cinta.
Konflik di atas kehidupan ini begitu beragam, tapi semua itu membuat
diri setiap insan terus belajar dan belajar untuk mengerti arti cinta.
Begitulah yang terjadi pada setiap orang yang mencoba menyelami samudra
kehidupan yang sebenarnya atas nama cinta, tapi tidak seorang pun yang
mampu mengerti apa yang terjadi pada diri kehidupan yang sebenarnya
nyata. Kadang pertanyaan terlintas di dalam hati setiap orang yang
sedang terbalut cinta, dalam hati kadang mereka menanyakannya dengan
pertanyaan seperti ini “apakah ia mencintaiku sebagaimana akau
mencintainya”, tidak ada yang begitu mengerti semua rahasia kehidupan
itu. Hanya keyakinan diri dari dalam jiwa mampu untuk menembus sisi-sisi
lain dari rahasia yang terselipkan. Tidak pernah terbayangkan
sebelumnya dan tidak pernah aku temukan di bangku perkuliahan hal-hal
yang demikian itu, adanya hanya di tengah samudra kehidupan yang luasnya
tak bertepi.
Hari demi hari berlalu, rasa rindu ini terus
menderu jiwa ini yang membuat hidup ini terasa tiada menentu dan
membuat diri membuat keputusan untuk bertemu dirinya. Tidak lama
kemudian rencana itu pun mampu terlaksana sebagaimana yang telah
terencanakan untuk bisa bertemu dirinya. Pertemuan yang ku nantikan
itupun tergambarkan di dalam benak ini ibarat air hujan yang membasahi
daratan tandus di setiap hamparan tanah luas yang gersang di atas bumi.
Bumi yang tandus itu telah lama menantikan hujan yang membuat ia
menumbuhkan tunas-tunas baru di atas daratan yang terbentang luas.
Pada
suatu Sore hari tepatnya di hari kamis di akhir bulan januari, di tahun
genap saat musim baru mengawali awal persemaian di tanah-tanah para
petani. Ssat itulah ku mencoba untuk bersua secara langsung, tanpa ada
tirai pembatas, seperti benteng waktu yang berbeda di setiap ramalan
yang hanya sebagian harapan menyatu berkisah dan bertutur pada
kehidupan. Ku meyakinkan diri dengan sebuah harapan untuk bisa bertemu
dirinya. Itulah mimpi yang selalu terbayang sebelumnya saat menghabiskan
waktu di tempat perantauan untuk menimba wawasan dan pengetahuan.
Impian itu kini terasa akan lebih nyata dan indah. Malam harinya ku
mencoba untuk menanyakan kabar tentang dirinya sebelum jauh melangkah
untuk memberikan kabar niat kedatangan untuk bisa bertamu di tempat ia
berdiri selaksa menyatu dengan suasana semesta. Peasan singkat antara
kami mengisahkan jalinan yang sangat menggetarkan bahasa hati,
komunikasi tulisan singkat terus membanjiri layar handphone
masing-masing untuk bisa menciptakan keharmonisan hidup yang mengukir
keserasian. Di tengah komunikasi yang kami jalin bersama pada malam itu
tidak memberikan suatu hasil yang begitu memuaskan untuk diri ini bisa
menatap cahaya rembulan bersama sosok sang bidadari penggetar dentuman
hati di lubuk jiwa yang paling dalam. Niatan untuk bisa bertemu dengan
dirinya harus tertunda sampai besok pagi. Terasa berat rindu ini yang
menggema dan berdengaung kencang mengisi setiap sisi jiwa dan mengalir
deras di setiap aliran nadi yang mengalir keseluruh tubuh. Hingga waktu
terasa berputar lebih lama. Mungkin semua manusia kan merasa beratnya
sebuah penantian, begitu pula yang telah ku alami ketika menanti
hadirnya mega merah di atas cakrawala bumi di saat alam membuka lembaran
baru.
Kini pagi itupun telah datang dengan penuh
semangat baru menantikan hadirnya pesona bidadari yang begitu anggunnya,
ia mampu membuat alam terkesima dengan senyumannya. Saat mentari masih
di dalam selimut semesta, aku pun menusuri jalan setapak yang telah
sebelumnya ada bekal informasi yang masih tersimpan di dalam memori ini
akan keberadaannya untuk mampu menemukan sosok renungan jiwa yang selalu
bersembunyi di balik tirai keheningan. Pagi itu aku pun mencoba menanti
dirinya, hasrat dan impian untuk bisa bertemu semakin membalut seluruh
tubuhKu. Sekian lama menanti, bidadari itu pun enggan menampakkan
dirinya. Hingga pada akhirnya diri ini meminta waktu untuk berhenti
sejenak, hanya kurun waktu 30 detik saja mungkin sudah begitu cukup
bagiku untuk memberikan kesejukan bagi hati yang merindukan kesejukan
dan belaian air rindu.
Kini semuanya berlalu
begitu saja. Apa yang selama ini di impikan dan mengisi setiap mimpi
dalam tidur tidak seperti yang berdetak dalam kenyataan kehidupan. Semua
itu membuat diri ini untuk terus menyadari betapa tiada bermaknanya
hidup ini di saat tidak melihat hadirnya. Hingga membuat hati siapapun
kan mengadu, cukuplah cinta ini tersimpan erat dan di baluti oleh impian
yang tercampakkan di atas arsy cinta. Dirinya yang begitu sempurna,
kini tersimpan dalam lembaran kehidupan di masa silam. Semoga apa yang
pernah terjadi menginspirasi arti sebuah pengorbanan tanpa mengharapkan
apapun dari setiap ketulusan yang mengalir dari hati yang paling dalam.
“Cinta tidak harus memiliki, karena cinta memilikinya dirinya sendiri,
Cinta itu berdiri di atas tanah cinta tanpa bersandar pada apapun selain
dirinya, ia mampu mencitrakan diri dengan beragam wajah cinta dan
menumbuhkan dirinya dengan cinta pula”. Begitulah ungkapan yang tepat
untuk menghibur diri ini di atas sembilu yang menari bersama mimpi dan
rindu. Hanya doa tulus yang bisa di persembahkan untuk seorang bidadari
yang sempurna dengan cahaya kemilaunya. Semoga bidadari itu selalu
tersenyum dengan senyuman terindah dari jiwa yang sempurna. Bisikan hati
ini mengilhami jiwa, mengerti arti cinta tanpa harus menggenggam setiap
bulir dedaunan dan bunga-bunga cinta. Pelajaran berharga itu tidak
pernah ada di singgasana kerajaan para raja-raja yang telah memimpin
dunia, begitu pula di bangku perkuliahan yang hanya terbatas pada pokok
bahasan teori saja. Tapi pelajaran berharaga untuk memahami cinta tanpa
harus memilikinya telah terbentangkan di atas kertas kehidupan nyata. Ia
bertuliskan tinta-tinta kesyukuran dan di hiasi lukisan kesabaran yang
begitu megahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar