Minggu, 27 Mei 2012

Bingkisan Rindu Bagi Yang Tersayang-Tak selamanya yang Engkau rindukan menjadi pendamping di tengah kehidupan

Bingkisan Rindu Bagi Yang Tersayang

Hari minggu di sepuluh hari awal di bulan pengibaran kesucian kemerdekaan kebangsaan adalah awal pertama dalam hidupku untuk mendengar suara indahnya, dialah sosok seorang wanita yang sebelumnya mengikrar bersama lembaran pesan-pesan darinya dan termaktubkan secara halus di dalam lembaran jiwa. Begitu singkatnya terasa waktu yang berjalan saat itu. Tapi bagiku itulah awal yang mengisahkan segala perasaan yang aku miliki untuk bisa lebih dekat melihat indahnya bunga mawar yang mengisi taman-taman hati dan Bunga mawar putih itu pun selalu mekar dengan hiasan yang indah bersama harumnya aroma yang mewarnai bunga tersebut. Sejak tiga hari pasca momentum bait-bait kemerdekaan bangsa telah terkumandangkan, diri ini mulai memberanikan diri untuk menyapanya, Pesan singkat pun aku kirimkan di setiap waktu untuk mengisi pagi dan malamnya sebagai kucuran bahasa perkenalan yang mengguyur panorama hati yang saat itu lagi mengibarkan pesona indahnya dengan air-air kerinduan di segenap tetesan yang telah merestui perkenalan ini, dan mekarnya pun bersama bingkisan bunga kado cinta. Tak lupa pesan singkat itu aku kirimkan untuk menemani aktifitasnya di bangku perkuliahan-di mana ia menuangkan tinta-tinta kesadaran, menimba pengetahuan-pengetahuan baru beralaskan kemantapan hati untuk mendengarkan rincian hikmah dari petuah sang bijak.


Seiring waktu yang telah berlalu, usaha yang telah terpatri di setiap dentingan waktu mencoba untuk mengirimkan bahasa kerinduan, Namun Semua pesan itu tak ada satupun balasan darinya untuk membalut kerinduan yang bersemayam di dalam dada. Tapi semua itu tidak menyurutkan hati ini untuk bisa mengenalnya. Hari demi hari berlalu, perjuangan hati ini terus mengalir laksana air sungai yang membasahi setiap bebatuan di tengah sungai. Air itupun terus mengalir hingga pada akhirnya ia harus sampai di muara penantian yang tidak jauh dari lautan dan samudra kehidupan yang begitu luasnya. Persimpangan-persimpangan di setiap aliran sungai mengantarkannya untuk bisa sampai pada tujuan dan harapan yang ia semburkan dari sumber mata air yang begitu suci. Airnya pun tak pernah lekang oleh waktu, sejuknya pun membuat semua kehidupan menjadi lebih bermakna dan berseri berwarna hijau, airnya pun mampu menghadirkan bunga di atas dedaunan hijau setiap tumbuhan yang terairi aliran suci dari air sungai sebagai anugrah terindah dari Tuhan Semesta alam.

Waktu pun berlalu, bulan pun kini berganti. Tepatnya di awal bulan September tahun milladiyah, pada hari rabu di pagi yang cerah secerah pesan semesta untuk mengabarkan kebahagiaan, menghangatkan setiap kehidupan yang di sinarinya, mampu menumbuhkan bibit-bibit baru dan menyegarkan tunas-tunas kehidupan yang layak menempati kehidupan, itulah hari di mana ketenteraman menyejukkan sukma. Hari rabu itu adalah awal yang membuat hari-hariku menanti lebih terkesan di kehidupan selanjutnya. Pagi itu ku tuliskan sebuah pesan singkat untuk menemani pagi harinya dan untuk menemani senyum indahnya di setiap buliran waktu yang terus berjalan di atas titian waktu di panggung kehidupan. Aku kiramkan pesan ini untuknya di pagi itu, bunyi pesan itu yang masih terngiang dan membekas di dalam bahasa otak serta masih terekam di dalam disc kehidupan, pesan itu tidak lebih berbunyi sebagai berikut; “kita di dunia ini tercipta untuk seseorang dan seseorang itu telah di utus tuhan untuk menciptakan indahnya dunia untuk kita.”. Dan pada akhirnya satu keajaiban terjadi, keajaiban yang di utus tuhan bersama sayap-sayap malaikat cinta yang mengepakkan sayap ketulus ikhlasan, menanungi setiap insan dengan balutan harapan dan kerinduan. Balasan pertama yang ku terima dari pesan singkat yang selama ini telah banyak mengisi hari-hari di kehidupan sosok bidadari, babak baru di mulai sebagai start awal kehidupan yang menyeruak meneriakkan gegap gempita bahasa kemenangan, priode zaman yang telah lama di nantikan kemerduan suara-suara nyaring nan lembut, waktu itu di pagi yang sangat cerah-di mana mentari bebas untuk menghangatkan seluruh jagad tanpa hadirnya awal-awan yang menyelimuti di atas cakrawala semesta, moment itu adalah awal dalam sejarah hidupku untuk bisa membaca setiap pesan yang ia kirimkan untuk ku setelah perjuangan melelahkan aku kibarkan untuknya, demi meraih simpati kasih dari hatinya dalam perhelatan jiwa.

Perjuangan itu bagiku masih bukan berarti apa-apa di bandingkan harapan suci dalam awal memulai perjuangan cinta dan kasih sayang. Saat itu Bahasa pesan yang tertuangan di layar hanphone begitu bermakna. Pertanyaan yang ia kirimkan mengesankanku untuk menjawab seruan hatinya dalam mengartikan arti sebuah cinta. Awal yang tidak-di sangka-sangka dan sangat berharga dalam hidupku. lima belas pesan yang telah aku terima sekaligus pembuka pesan singkat darinya. Awal memulai hidup baru adalah kesiapan untuk menerima segala manifestasi kemungkinan yang di tawarkan kehidupan bagi setiap insan dan memiliki kemantapan dalam upaya untuk menepis segala muslihat ketidak pantasan bagi apa yang telah di ikrarkan jiwa.

 Perjalanan melelahkan itupun tiada terasa dan tiada berarti di bandingkan dengan impian yang terlukiskan. Jika hidup ini dihadapi dengan Tenang, senang dan sabar. Maka lelah tidak akan terasa. Mulai dari awal bulan September, sepuluh hari pertama di akhir penantian masa adalah merupakan babak baru, percakapan di antara kami mulai terbuka satu sama lain tentang peribadi masing-masing. Hingga pada suatu malam yang membuat dirinya harus bercerita banyak tentang konflik yang di alaminya-di mana kehidupan tidak menjinakkan diri di hadapannya, seolah-olah kehidupan menjadikannya terkucilkan. Wanita suci itu pun meneteskan air mata di saat ia mengolah rasa di balik segala bahasa curhatannya. Tidak cukup malam itu, kisah yang mengesankan pun berlanjut di pagi hari dengan irama bait-bait ceritra yang ia sampaikan dari mulut indahnya. Kepercayaan itupun aku mencoba untuk menjaganya dan mencoba untuk memberikan yang terbaik untuk dirinya. Solusi yang terbaik untuk menengarai permasalahan yang ia alami berusaha ku lahirkan dari ide dan pengalaman dan serangkaian konstruk pengetahuan yang aku miliki, walaupun sangat terbatas. Berawal dari sharing dan berbagi cerita-cerita singkat itulah kedekatanku dengan dirinya mulai terbuka bagaikan pintu cakrawala yang terbuka untuk setiap burung-burung kehidupan yang mengepakkan sayapnya di atas udara dan menari-nari bersama awan di atas singgasana angkasa. Burung itu merasa bebas dan merasa menikmati indahnya panorama alam yang terbentang luas tanpa batas.

Menjaga kepercayaan memang begitu sulitnya untuk manusia yang begitu lemah seperti diriku, tapi diri ini mencoba untuk bisa menjaga kepercayaan yang telah ia pikulkan di atas pundak jiwa ini. Menjaga apa yang pernah di amanatkan orang lain tidak lain penguat hati demi menjaga sebuah kejujuran, entah apapun itu, baik sesuatu yang terlihat kecil dan ataupun besar, sesuatu yang berbentuk ataupun tidak, semua itu adalah sebuah amanah kehidupan untuk di pikul dan di jaga sebaik mungkin, semampu jiwa untuk selalu mengisahkan rahasia sebagai bentuk kerahasiaan, bukan untuk di umbar-umbar di dalam setiap lukisan ceritra kebebasan kehidupan tanpa tapal batas. Sungguh celakalah jiwa jika yang demikian itu menjadi sebuah pilihan hidup, tidak ada kepercayaan lagi andai ada pesan kehidupan yang ingin di pikulkan baginya.

 Perjalanan dan perjuangan cinta tidak selalu mulus adanya, banyak sekali tantangan dan hambatan yang menghiasi indahnya cinta. Justru di balik segala kemelut kehidupan merupakan ujian untuk membuktikan kesetiaan dan kekuatan cinta-sebatas mana ia mampu bertahan, seyogyanyalah kesabaran yang menuntun jika keseluruhan puing bangunan cinta di harapkan bertahan dan di berikan celupan hiasan kejujuran di setiap dinding-dindingnya. Ia-Cinta akan selalu terjaga indah jika kesucian mewarnai pesona setiap sisi-sisinya. Dengan tantangan dan hambatan sebagai penghiasnya membuat ia semakin indah. Persimpangan jalan membuat insan harus membuat sebuah kepastian dalam hidupnya. Begitulah kalimat yang mungkin tepat untuk menceritrakan anugrah terindah dari tuhan tentang kalimat-kalimat cinta. Konflik di atas kehidupan ini begitu beragam, tapi semua itu membuat diri setiap insan terus belajar dan belajar untuk mengerti arti cinta. Begitulah yang terjadi pada setiap orang yang mencoba menyelami samudra kehidupan yang sebenarnya atas nama cinta, tapi tidak seorang pun yang mampu mengerti apa yang terjadi pada diri kehidupan yang sebenarnya nyata. Kadang pertanyaan terlintas di dalam hati setiap orang yang sedang terbalut cinta, dalam hati kadang mereka menanyakannya dengan pertanyaan seperti ini “apakah ia mencintaiku sebagaimana akau mencintainya”, tidak ada yang begitu mengerti semua rahasia kehidupan itu. Hanya keyakinan diri dari dalam jiwa mampu untuk menembus sisi-sisi lain dari rahasia yang terselipkan. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan tidak pernah aku temukan di bangku perkuliahan hal-hal yang demikian itu, adanya hanya di tengah samudra kehidupan yang luasnya tak bertepi.

Hari demi hari berlalu, rasa rindu ini terus menderu jiwa ini yang membuat hidup ini terasa tiada menentu dan membuat diri membuat keputusan untuk bertemu dirinya. Tidak lama kemudian rencana itu pun mampu terlaksana sebagaimana yang telah terencanakan untuk bisa bertemu dirinya. Pertemuan yang ku nantikan itupun tergambarkan di dalam benak ini ibarat air hujan yang membasahi daratan tandus di setiap hamparan tanah luas yang gersang di atas bumi. Bumi yang tandus itu telah lama menantikan hujan yang membuat ia menumbuhkan tunas-tunas baru di atas daratan yang terbentang luas.

Pada suatu Sore hari tepatnya di hari kamis di akhir bulan januari, di tahun genap saat musim baru mengawali awal persemaian di tanah-tanah para petani. Ssat itulah ku mencoba untuk bersua secara langsung, tanpa ada tirai pembatas, seperti benteng waktu yang berbeda di setiap ramalan yang hanya sebagian harapan menyatu berkisah dan bertutur pada kehidupan. Ku meyakinkan diri dengan sebuah harapan untuk bisa bertemu dirinya. Itulah mimpi yang selalu terbayang sebelumnya saat menghabiskan waktu di tempat perantauan untuk menimba wawasan dan pengetahuan. Impian itu kini terasa akan lebih nyata dan indah. Malam harinya ku mencoba untuk menanyakan kabar tentang dirinya sebelum jauh melangkah untuk memberikan kabar niat kedatangan untuk bisa bertamu di tempat ia berdiri selaksa menyatu dengan suasana semesta. Peasan singkat antara kami mengisahkan jalinan yang sangat menggetarkan bahasa hati, komunikasi tulisan singkat terus membanjiri layar handphone masing-masing untuk bisa menciptakan keharmonisan hidup yang mengukir keserasian. Di tengah komunikasi yang kami jalin bersama pada malam itu tidak memberikan suatu hasil yang begitu memuaskan untuk diri ini bisa menatap cahaya rembulan bersama sosok sang bidadari penggetar dentuman hati di lubuk jiwa yang paling dalam. Niatan untuk bisa bertemu dengan dirinya harus tertunda sampai besok pagi. Terasa berat rindu ini yang menggema dan berdengaung kencang mengisi setiap sisi jiwa dan mengalir deras di setiap aliran nadi yang mengalir keseluruh tubuh. Hingga waktu terasa berputar lebih lama. Mungkin semua manusia kan merasa beratnya sebuah penantian, begitu pula yang telah ku alami ketika menanti hadirnya mega merah di atas cakrawala bumi di saat alam membuka lembaran baru.


Kini pagi itupun telah datang dengan penuh semangat baru menantikan hadirnya pesona bidadari yang begitu anggunnya, ia mampu membuat alam terkesima dengan senyumannya. Saat mentari masih di dalam selimut semesta, aku pun menusuri jalan setapak yang telah sebelumnya ada bekal informasi yang masih tersimpan di dalam memori ini akan keberadaannya untuk mampu menemukan sosok renungan jiwa yang selalu bersembunyi di balik tirai keheningan. Pagi itu aku pun mencoba menanti dirinya, hasrat dan impian untuk bisa bertemu semakin membalut seluruh tubuhKu. Sekian lama menanti, bidadari itu pun enggan menampakkan dirinya. Hingga pada akhirnya diri ini meminta waktu untuk berhenti sejenak, hanya kurun waktu 30 detik saja mungkin sudah begitu cukup bagiku untuk memberikan kesejukan bagi hati yang merindukan kesejukan dan belaian air rindu.

Kini semuanya berlalu begitu saja. Apa yang selama ini di impikan dan mengisi setiap mimpi dalam tidur tidak seperti yang berdetak dalam kenyataan kehidupan. Semua itu membuat diri ini untuk terus menyadari betapa tiada bermaknanya hidup ini di saat tidak melihat hadirnya. Hingga membuat hati siapapun kan mengadu, cukuplah cinta ini tersimpan erat dan di baluti oleh impian yang tercampakkan di atas arsy cinta. Dirinya yang begitu sempurna, kini tersimpan dalam lembaran kehidupan di masa silam. Semoga apa yang pernah terjadi menginspirasi arti sebuah pengorbanan tanpa mengharapkan apapun dari setiap ketulusan yang mengalir dari hati yang paling dalam. “Cinta tidak harus memiliki, karena cinta memilikinya dirinya sendiri, Cinta itu berdiri di atas tanah cinta tanpa bersandar pada apapun selain dirinya, ia mampu mencitrakan diri dengan beragam wajah cinta dan menumbuhkan dirinya dengan cinta pula”. Begitulah ungkapan yang tepat untuk menghibur diri ini di atas sembilu yang menari bersama mimpi dan rindu. Hanya doa tulus yang bisa di persembahkan untuk seorang bidadari yang sempurna dengan cahaya kemilaunya. Semoga bidadari itu selalu tersenyum dengan senyuman terindah dari jiwa yang sempurna. Bisikan hati ini mengilhami jiwa, mengerti arti cinta tanpa harus menggenggam setiap bulir dedaunan dan bunga-bunga cinta. Pelajaran berharga itu tidak pernah ada di singgasana kerajaan para raja-raja yang telah memimpin dunia, begitu pula di bangku perkuliahan yang hanya terbatas pada pokok bahasan teori saja. Tapi pelajaran berharaga untuk memahami cinta tanpa harus memilikinya telah terbentangkan di atas kertas kehidupan nyata. Ia bertuliskan tinta-tinta kesyukuran dan di hiasi lukisan kesabaran yang begitu megahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar