Banyak orang mengira
bahwasanya keberadaan kebahagiaan itu nun jauh disana, untuk menempuh
perjalanan jauh menuju kebahagiaan itu membutuhkan tenaga yang kuat
serta dibutuhkannya kelengkapan bekal yang cukup untuk bisa
menemukannya. Inilah yang sedang terjadi dalam benak kebanyakan kita,
jarang sekali melihat kedalam diri masing-masing, lebih sering
melihat dunia luar yang diasumsikan sebagai sumber kebahagiaan itu,
namun nyatanya setelah dicari dan dicari keluar sana, semakin terasa
jauh saja keberadaanya, bahkan kebahagiaan itu hanya terlihat seperti
patamorgana. Lantas kemana harus mencarinya?
Kebanyakan orang bertanya
demikian, semakin dipertanyakan, rasa-rasanya ia semakin menjauh
karena kita tidak merasa puas dengan apa yang ada didalam diri,
sehingga sering terlintas didalam pikiran untuk mempertanyakannya
pada orang lain atau dunia luar. Sama seperti ceritra seorang anak
yang mencoba mencari kunci rumahnya diluar kompleks rumahnya, padahal
saat sebelumnya sebenarnya ia telah menaruh kunci itu didalam
sakunya, sungguh aneh bukan?
Inilah gambaran kehidupan
kebanyakan orang dizaman ini. Barangkali kita juga demikian adanya,
tidak ada yang merasa puas atas apa yang dimilikinya karena terlalu
memandang jauh keluar hingga ia melupakan sejatinya dirinya sendiri.
Akankah kita tetap
berpendirian demikian? Berusaha keras mencari sesuatu diluar sana,
padahal kita telah memiliki apa yang kita inginkan sesungguhnya ada
didalam. Kebanyakan orang telah bersusah payah menguras tenaga
Mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, namun setelah terkumpul
didalam tabungan, mereka malah bingung mau membelanjakannya kemana
karena sebenarnya obsesi mereka terhadap uang telah beralih pada
obsesi lainnya, terobsesi untuk mencari hal lainnya lagi untuk
memuaskan keinginan belaka, seperti misalnya jabatan tinggi, nama
baik-reputasi, dan lain sebagainya.
Seolah-olah kita terus
berlari dan berlari tanpa henti untuk bisa meraih segala obsesi dan
impian serta harapan yang belum tercapai. Rasanya sangat aneh jika
kita mencari sesuatu namun kita sendiri tidak bisa menikmatinya.
Pikiran apalagi yang sebenarnya sedang menari-nari dalam benak kita
sehingga kita tidak merasa berkecukupan atas karunia tuhan yang ada.
Sungguh, kehidupan ini tidak akan bisa dinikmati jika kita berlari
dan terus berlari mengejar segala sesuatu yang menjadi impian akan
ingin kita.
Coba bayangkan, apa yang
akan terjadi jika kita terus berlari dan berlari tanpa
henti-hentinya? Yang pasti rasa lelah+capek+letih sudah menjadi teman
dekat yang tidak bisa terpisahkan. Demikian pula dalam kehidupan ini,
tuhan telah membimbing kita untuk berusaha namun bukan berarti tidak
beristirahat sama sekali, sesungguhnya ada jeda waktu untuk
mengoreksi kembali pencapaian itu saat sejenak serta meluangkan waktu
beristirahat, layaknya mesin yang terus dipaksakan untuk terus
bekerja dan bekerja, sungguh dalam waktu dekat, mesin tersebut akan
menanti kerusakan yang pasti dan tidak bisa dielakkan lagi.
Sesungguhnya Kehidupan ini
saling mengisi satu sama lain, ibaratnya malam berganti siang, dan
lain sebagainya. Cobalah sejenak kita melihat keseimbangan sempurna
yang Tuhan ciptakan ditengah bentangan alam semesta ini, disanalah
terlihat wajah keagungan tuhan untuk menuntun kita ke jalan
kebahagiaan. Sebagaimana apa yang ingin kita cari sebelum-sebelumnya,
jika ingin menemukannya maka seharusnya bercermin dari kehidupan ini.
Tentu semua orang berharap
memiliki kecukupan financial atau bahkan bisa dibilang melimpah,
banyak orang mendambakan kedudukan atau pangkat yang layak, namun
keinginan akan menjadi bencana besar jika tidak diimbangi rasa
kesyukuran dan keikhlasan. Mensyukuri nikmat saat karunia itu telah
dikaruniakan tuhan kepada kita serta siap mengikhlaskannya jika tuhan
mengambil kembali apa yang telah dititipkannya kepada kita. Karena
semua itu milknya dan akan kembali jua kepada-Nya, tidak ada
kepemilikan yang sebanar-benarnya milik kita seutuhnya, semua itu
adalah pemberian dari-Nya. Apalagi yang ingin kita sombongkan dimata
manusia lainnya? Layakkah keangkuhan itu menguras jiwa sejadi-jadinya
hingga membuat kehidupan kita kering kerontang.
Jangan sampai kita seperti
seperti kata pepatah; “kacang lupa kulitnya”. Merasa diri telah
mapan dan mumpuni, merasa diri berhasil atas usaha sendiri sehingga
melupakan jerih payah orang lain yang telah banyak berkontribusi atas
keberhasilan yang kita miliki saat sekarang ini, bahkan terkadang
melupakan Tuhan yang telah memberikan karunia kepada kehidupan ini.
Apakah itu tujuan akhir dari hidup dan kehidupan ini. selalu saja
melupakan orang lain bahkan sampai melupakan Tuhan saat nikmat
berlimpah.
Tentu saja hal itu
bukanlah menjadi tujuan akhir sebagai pencapaian hidup seutuhnya.
Harapannya adalah kemurnian pensucian diri untuk mensyukuri segala
karunia karena pada dasarnya kita telah banyak mendapatkan segala
macam nikmat karena kasih sayang Sang Pencipta. Tidak salah memiliki
banyak harta, namun jangan sampai harta kekayaan tersebut membuat
kita lupa kehidupan sejatinya.
Adalah bijaksana kehidupan
seseorang yang bersyukur atas nikmat karunia tuhan tanpa melupakan
pengabdian sucinya pada jalan pencerahan, yaitu jalan bimbingan
spiritual untuk menemukan cahaya tuhan dibalik segala ciptaan. Inilah
tujuan sebenarnya yang diharapkan.
Ada satu pesan pokok yang
pernah diajarkan oleh para utusan yang mengajak manusia pada jalan
pencerahan. Yaitu memupuk sikap ikhlas atas segala ketentuan yang
berlaku atas diri kita ditengah kehidupan. Kebanyakan orang lupa diri
ketika mendapat karunia nikmat, seolah-olah mereka tidak ingin lepas
dari nikmat itu, menginginkan kabadian atas kemelakatan yang sedang
melimpah. Padahal didalam kehidupan ini tidak ada yang abadi.
Semua orang tentu berharap
memiliki banyak uang, berharap menjadi seorang yang bertitle tinggi
dan lain sebagainya, sehingga terkadang mereka tidak ingin lepas dari
kemelakatan itu. Ini bukanlah suatu pertanda baik, karena
sesungguhnya dalam kehidupan ini ada yang datang dan pergi, semuanya
silih berganti sebagaimana tuhan telah berfirman demikian kepada
keseluruhan semsta.
Layaknya pergeseran waktu
antara siang dan malam yang terus berputar, pergantian msuim yang
silih berganti dan saling mengisi satu sama lain. Seolah-olah
kehidupan ini berpesan kepada kita manusia untuk menyadarinya;
kehidupan ini tidak ada yang abadi. Layak disyukuri jika nikmat telah
menjadi bagian dari diri dan mengikhlaskannya jika sudah kembali
kepada Sang Pemberi Karunia itu sendiri.
Adalah indah jika kita
sudah sampai pada jalan ini, kita tidak lagi menaruh harapan tinggi
kepada kemelakan kehidupan ini seperti misalnya kepemilikan harta
melimpah, jabatan tinggi dan atau lain sebagainya, hanyalah ada
kesadaran diri untuk menjalankan peran sebagaimana tuhan memesankan
kita untuk tetap berjalan pada jalan pencerahan sebagaimana para
utusan telah berpesan demikian.
Memberontak dari siklus
sempuna alam semesta ini berarti kita telah menolak sejatinya diri
kita. Hanyalah kehausan yang tak berujung menjadi teman karena kita
lebih memilih ke-egoisan yang terus saja menjadi teman disetiap
harinya. Berjalan menapaki kehidupan ini secara seimbang menjadikan
kita lebih mengerti arti kehidupan ini, tidak hanya itu, sikap
demikian akan membimbing kita pada pencapaian tertinggi yaitu
bertemunya seorang hamba dengan wajah keagungan tuhan disetiap
bentangan alam ini. Mereka ini telah mampu menuai kesejukan serta
kedamaian dibalik segala sesuatu yang terus saja bergulir.
Silih bergantinya
kehidupan bukanlah menjadi hambatan bagi mereka untuk menemukan apa
yang semestinya menjadi tujuan pencapaian hidup, dimata mereka semua
itu terlihat bersimfoni dan menyanyikan lagu-lagu kebahagiaan yang
sangat indah bagi siapapun yang mendengarkan senandung indahnya.
Diakhir perjalanan,
kebahagiaan akan berbisik; “Jangan cari aku lagi, sesungguhnya aku
berada dalam diriMu, maka cari dan temukanlah aku didalam sana, aku
ada karena engkaupun ada. Coba tanyakan keberadaanku dalam diriMu,
Mengalirlah bersama kehidupan ini sebagaimana air mengalir dalam
aliran sempurna hingga akhirnya bermuara pada samudera luas
(kehidupan).”
Akhir pencapaian sudah
menjadi teman sejatinya hidup dan menjadikan kita telah berwajah
aslinya diri kita. Tidak perduli apapun yang terjadi dan bergejolak
dalam hidup ini, semuanya kita terima apa adanya dan menuntun kita
pada bertemunya keagungan tuhan dimana-mana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar