Kamis, 05 April 2012

Jangan Cari Aku Lagi, Sungguh aku berada dalam dirimu maka temukanlah aku didalam sana, "dihatimu"


Banyak orang mengira bahwasanya keberadaan kebahagiaan itu nun jauh disana, untuk menempuh perjalanan jauh menuju kebahagiaan itu membutuhkan tenaga yang kuat serta dibutuhkannya kelengkapan bekal yang cukup untuk bisa menemukannya. Inilah yang sedang terjadi dalam benak kebanyakan kita, jarang sekali melihat kedalam diri masing-masing, lebih sering melihat dunia luar yang diasumsikan sebagai sumber kebahagiaan itu, namun nyatanya setelah dicari dan dicari keluar sana, semakin terasa jauh saja keberadaanya, bahkan kebahagiaan itu hanya terlihat seperti patamorgana. Lantas kemana harus mencarinya?

Kebanyakan orang bertanya demikian, semakin dipertanyakan, rasa-rasanya ia semakin menjauh karena kita tidak merasa puas dengan apa yang ada didalam diri, sehingga sering terlintas didalam pikiran untuk mempertanyakannya pada orang lain atau dunia luar. Sama seperti ceritra seorang anak yang mencoba mencari kunci rumahnya diluar kompleks rumahnya, padahal saat sebelumnya sebenarnya ia telah menaruh kunci itu didalam sakunya, sungguh aneh bukan?

Inilah gambaran kehidupan kebanyakan orang dizaman ini. Barangkali kita juga demikian adanya, tidak ada yang merasa puas atas apa yang dimilikinya karena terlalu memandang jauh keluar hingga ia melupakan sejatinya dirinya sendiri.

Akankah kita tetap berpendirian demikian? Berusaha keras mencari sesuatu diluar sana, padahal kita telah memiliki apa yang kita inginkan sesungguhnya ada didalam. Kebanyakan orang telah bersusah payah menguras tenaga Mengumpulkan uang  sebanyak-banyaknya, namun setelah terkumpul didalam tabungan, mereka malah bingung mau membelanjakannya kemana karena sebenarnya obsesi mereka terhadap uang telah beralih pada obsesi lainnya, terobsesi untuk mencari hal lainnya lagi untuk memuaskan keinginan belaka, seperti misalnya jabatan tinggi, nama baik-reputasi, dan lain sebagainya.

Seolah-olah kita terus berlari dan berlari tanpa henti untuk bisa meraih segala obsesi dan impian serta harapan yang belum tercapai. Rasanya sangat aneh jika kita mencari sesuatu namun kita sendiri tidak bisa menikmatinya. Pikiran apalagi yang sebenarnya sedang menari-nari dalam benak kita sehingga kita tidak merasa berkecukupan atas karunia tuhan yang ada. Sungguh, kehidupan ini tidak akan bisa dinikmati jika kita berlari dan terus berlari mengejar segala sesuatu yang menjadi impian akan ingin kita.

Coba bayangkan, apa yang akan terjadi jika kita terus berlari dan berlari tanpa henti-hentinya? Yang pasti rasa lelah+capek+letih sudah menjadi teman dekat yang tidak bisa terpisahkan. Demikian pula dalam kehidupan ini, tuhan telah membimbing kita untuk berusaha namun bukan berarti tidak beristirahat sama sekali, sesungguhnya ada jeda waktu untuk mengoreksi kembali pencapaian itu saat sejenak serta meluangkan waktu beristirahat, layaknya mesin yang terus dipaksakan untuk terus bekerja dan bekerja, sungguh dalam waktu dekat, mesin tersebut akan menanti kerusakan yang pasti dan tidak bisa dielakkan lagi.

Sesungguhnya Kehidupan ini saling mengisi satu sama lain, ibaratnya malam berganti siang, dan lain sebagainya. Cobalah sejenak kita melihat keseimbangan sempurna yang Tuhan ciptakan ditengah bentangan alam semesta ini, disanalah terlihat wajah keagungan tuhan untuk menuntun kita ke jalan kebahagiaan. Sebagaimana apa yang ingin kita cari sebelum-sebelumnya, jika ingin menemukannya maka seharusnya bercermin dari kehidupan ini.

Tentu semua orang berharap memiliki kecukupan financial atau bahkan bisa dibilang melimpah, banyak orang mendambakan kedudukan atau pangkat yang layak, namun keinginan akan menjadi bencana besar jika tidak diimbangi rasa kesyukuran dan keikhlasan. Mensyukuri nikmat saat karunia itu telah dikaruniakan tuhan kepada kita serta siap mengikhlaskannya jika tuhan mengambil kembali apa yang telah dititipkannya kepada kita. Karena semua itu milknya dan akan kembali jua kepada-Nya, tidak ada kepemilikan yang sebanar-benarnya milik kita seutuhnya, semua itu adalah pemberian dari-Nya. Apalagi yang ingin kita sombongkan dimata manusia lainnya? Layakkah keangkuhan itu menguras jiwa sejadi-jadinya hingga membuat kehidupan kita kering kerontang.

Jangan sampai kita seperti seperti kata pepatah; “kacang lupa kulitnya”. Merasa diri telah mapan dan mumpuni, merasa diri berhasil atas usaha sendiri sehingga melupakan jerih payah orang lain yang telah banyak berkontribusi atas keberhasilan yang kita miliki saat sekarang ini, bahkan terkadang melupakan Tuhan yang telah memberikan karunia kepada kehidupan ini. Apakah itu tujuan akhir dari hidup dan kehidupan ini. selalu saja melupakan orang lain bahkan sampai melupakan Tuhan saat nikmat berlimpah.

Tentu saja hal itu bukanlah menjadi tujuan akhir sebagai pencapaian hidup seutuhnya. Harapannya adalah kemurnian pensucian diri untuk mensyukuri segala karunia karena pada dasarnya kita telah banyak mendapatkan segala macam nikmat karena kasih sayang Sang Pencipta. Tidak salah memiliki banyak harta, namun jangan sampai harta kekayaan tersebut membuat kita lupa kehidupan sejatinya.

Adalah bijaksana kehidupan seseorang yang bersyukur atas nikmat karunia tuhan tanpa melupakan pengabdian sucinya pada jalan pencerahan, yaitu jalan bimbingan spiritual untuk menemukan cahaya tuhan dibalik segala ciptaan. Inilah tujuan sebenarnya yang diharapkan.

Ada satu pesan pokok yang pernah diajarkan oleh para utusan yang mengajak manusia pada jalan pencerahan. Yaitu memupuk sikap ikhlas atas segala ketentuan yang berlaku atas diri kita ditengah kehidupan. Kebanyakan orang lupa diri ketika mendapat karunia nikmat, seolah-olah mereka tidak ingin lepas dari nikmat itu, menginginkan kabadian atas kemelakatan yang sedang melimpah. Padahal didalam kehidupan ini tidak ada yang abadi.

Semua orang tentu berharap memiliki banyak uang, berharap menjadi seorang yang bertitle tinggi dan lain sebagainya, sehingga terkadang mereka tidak ingin lepas dari kemelakatan itu. Ini bukanlah suatu pertanda baik, karena sesungguhnya dalam kehidupan ini ada yang datang dan pergi, semuanya silih berganti sebagaimana tuhan telah berfirman demikian kepada keseluruhan semsta.

Layaknya pergeseran waktu antara siang dan malam yang terus berputar, pergantian msuim yang silih berganti dan saling mengisi satu sama lain. Seolah-olah kehidupan ini berpesan kepada kita manusia untuk menyadarinya; kehidupan ini tidak ada yang abadi. Layak disyukuri jika nikmat telah menjadi bagian dari diri dan mengikhlaskannya jika sudah kembali kepada Sang Pemberi Karunia itu sendiri.

Adalah indah jika kita sudah sampai pada jalan ini, kita tidak lagi menaruh harapan tinggi kepada kemelakan kehidupan ini seperti misalnya kepemilikan harta melimpah, jabatan tinggi dan atau lain sebagainya, hanyalah ada kesadaran diri untuk menjalankan peran sebagaimana tuhan memesankan kita untuk tetap berjalan pada jalan pencerahan sebagaimana para utusan telah berpesan demikian.

Memberontak dari siklus sempuna alam semesta ini berarti kita telah menolak sejatinya diri kita. Hanyalah kehausan yang tak berujung menjadi teman karena kita lebih memilih ke-egoisan yang terus saja menjadi teman disetiap harinya. Berjalan menapaki kehidupan ini secara seimbang menjadikan kita lebih mengerti arti kehidupan ini, tidak hanya itu, sikap demikian akan membimbing kita pada pencapaian tertinggi yaitu bertemunya seorang hamba dengan wajah keagungan tuhan disetiap bentangan alam ini. Mereka ini telah mampu menuai kesejukan serta kedamaian dibalik segala sesuatu yang terus saja bergulir.

Silih bergantinya kehidupan bukanlah menjadi hambatan bagi mereka untuk menemukan apa yang semestinya menjadi tujuan pencapaian hidup, dimata mereka semua itu terlihat bersimfoni dan menyanyikan lagu-lagu kebahagiaan yang sangat indah bagi siapapun yang mendengarkan senandung indahnya.

Diakhir perjalanan, kebahagiaan akan berbisik; “Jangan cari aku lagi, sesungguhnya aku berada dalam diriMu, maka cari dan temukanlah aku didalam sana, aku ada karena engkaupun ada. Coba tanyakan keberadaanku dalam diriMu, Mengalirlah bersama kehidupan ini sebagaimana air mengalir dalam aliran sempurna hingga akhirnya bermuara pada samudera luas (kehidupan).”

Akhir pencapaian sudah menjadi teman sejatinya hidup dan menjadikan kita telah berwajah aslinya diri kita. Tidak perduli apapun yang terjadi dan bergejolak dalam hidup ini, semuanya kita terima apa adanya dan menuntun kita pada bertemunya keagungan tuhan dimana-mana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar