Sabtu, 07 April 2012

1Kaya Butuh kesiapan, Miskin pun juga demikian, So hidup Butuh Persiapan!


Melihat perjalanan kehidupan kita sehari-hari, sesungguhnya akan mengingatkan kita bahwa sejatinya hidup ini mengajarkan kita untuk selalu mempersiapkan diri dalam kesiapan-kesiapan yang akan menjadikan kita lebih mengenal arti kehidupan. Bagaimana tidak, dalam hidup ini selalu menawarkan beragam konsekuensi yang memang harus kita jalani tanpa kita bisa mengelak daripadanya. Mempersiapkan diri atas segala konsekuensi berarti melatih kesadaran kita bahwa hidup ini memang selayaknya dipersiapkan agar tidak terjadi kekecewaan dibelakang hari. Jika kekecewaan menjadi sahabat kehidupan, hanya tangis yang akan menyisakan sebuah kesedihan dan keterhinaan.

Tentu tidak seorangpun diantara kita yang mengingikan kesedihan itu selalu membayangi hidup kita sepanjang masa. Bukankah kita hidup untuk menggapai kebahagiaan dengan mencoba menapaki kesedihan, namun pada akhirnya perjalanan ini membimbing kita untuk bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini kita impikan? Bukan menjalani kehidupan yang berakhir pada sebuah ketersedihan.

Ada seorang sahabat pernah berpesan demikian; “ternyata tidak hanya orang kaya yang butuh persiapan dalam menerima keberlimpahan, orang miskin pun sebenarnya harus memiliki kesiapan dalam menerima segala kekurangan yang ada.” Dalam hidup ini sudah ada yang mengaturnya, semua orang pun tahu tentang hal itu, namun pada kenyataannya tidak semua orang menyadari secara sepenuhnya apa yang semestinya sedang berlaku atas apa yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Tahu.

Bagi mereka yang miskin tentu saja diberikan suatu bekal dalam menjalani kehidupannya yang diwarnai dalam hidup penuh kekurangan, namun sesungguhnya disanalah terlihat keberlimpahan kesadaran dalam menerima kenyataan hidup, menerima kemiskinan dengan penuh lapang dada, mereka yang miskin sesungguhnya kaya dengan kesabaran untuk menerima kenyataan, penuh dengan sikap kecukupan pada pikiran atas apa yang mereka miliki tanpa banyak menuntup apa-apa yang memang tidak mampu untuk mereka hadirkan dalam kehidupan mereka disetiap hari. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang membimbing untuk bisa menerima kehidupan ini seperti apa adanya. Namun adakalanya diantara mereka yang miskin tidak menyadari hal itu sehingga melahirkan sikap pemberontakan dan menganggap bahwa hidup ini ternyata jurang yang sangat dalam sekaligus menyisakan kesedihan.

Dilain pojokan kehidupan yang lainpun sedang bercerita demikian, bagi mereka yang hidup dalam keberlimpahan tentu saja akan melahirkan sikap kesyukuran atas nikmat tuhan yang begitu melimpah. Bagi mereka yang memiliki keberlimpahan atas kehidupan, hidup ini akan terasa lebih mudah, apapun yang mereka inginkan akan sangat mudah mereka dapatkan, tentu hal ini layak untuk disyukuri. Namun ternyata keberlimpahanpun berbicara berbeda jika kita tidak memupuk diri dalam kesiapan penuh kesadaran untuk selalu membimbing diri.

Begitu banyak diantara mereka yang memiliki keberlimpahan telah jatuh dalam jurang keterhinaan. Kekayaan yang semestinya menjadikan hidup mereka lebih mudah, akan tetapi kekayaan itupun bisa berujung pada sebuah keterhinaan yang menyisakan tangis kesedihan. Begitu banyaknya kehidupan orang kaya diwarnai kekisruhan. Terkadang tidurpun harus dibantu oleh terapis atau pil tidur agar mereka mampu merasakan tidur nyenyak. Hal ini sungguh sangat ironis bukan? Namun  begitulah wajah kehidupan yang selayaknya patut untuk kita bercermin agar kita tidak terjerumus dalam jurang keterhinaan.

Sahabat pembaca yang budiman, tentu saja hidup ini butuh persiapan, bukan? Bagi mereka yang memiliki banyak kekurangan dalam kehidupannya harus siap untuk menerima kenyataan dan penuh kesabaran untuk menjalani kehidupan. Begitupula bagi mereka yang memiliki keberlimpahan, tentu saja harus memiliki kesiapan untuk selalu bersyukur atas kekayaan yang telah dikaruniakan tuhan. Adalah kita sebagai manusia lebih sering digerogoti oleh pikiran-pikiran yang sesunggunya mengantarkan kita pada kemelekatan. Misalnya saja dalam kehidupan kita sehari-harinya; kita lebih sering menginginkan ini dan itu tanpa menyesuaikannya dengan diri kita, apakah kita sudah sepenuhnya siap menerima kenyataan jika hal apapun itu menjadi pendamping kita dalam kehidupan ini.

Kita seringkali inginkan cepat-cepat kaya, namun setelah kaya kita justru makin kehilangan kendali diri dan tidak mampu lagi merasakan hidup dalam kesederhanaan sebagaimana dahulunya. Tentu hal ini bukanlah anugrah, namun hakikatnya lebih tepat diistilahkan sebagai suatu musibah karena apa yang sesunggunya saat ini sedang kita miliki tidak menjadikan kita lebih mensyukuri karunia terindah atas apa yang telah Tuhan berikan, namun ternyata keberlimpahan itu menjadikan hidup kita semakin terjerumus dalam keterhinaan.

Dilain sisi kehidupan, kitapun seringkali inginkan cepat-cepat untuk bisa naik pangkat, harapannya adalah tidak lain agar bisa dikenal oleh orang lain, namun ternyata sepenuhnya kita belum memiliki kesiapan untuk menerima kenyataan, entah itu kesiapan secara lahir maupun kesiapan bathin, hingga pada akhirnya pangkat dan jabatan itu kita memanfaatkan sebagai modal untuk mengumpulkan kekayaan, menjadikan orang lain sebagai bawahan yang hanya layak untuk menuruti segala keinginan, bukan lagi melihat bawahan sebagai rekan untuk menopang kehidupan, disisi kehidupan yang lain juga begitu. Tentu saja hal ini adalah musibah atas kehidupan.

Mungkin tidak sekarang kita merasakan impasnya, bisa jadi esok ataupun lusa atau mungkin saja tahun depan. Tuhan tidak langsung menghakimi atas apa yang sesunggunya sedang berlaku dalam kisah perjalanan hidup ini, semua itu dimaksudkan agar kita menyadari sepenuhnya apa arti kehidupan ini sehingga kita bisa mengubah pola sikap dalam kehidupan kita disetiap harinya. Semua itu tentu butuh kesiapan untuk bisa merealisasikannya dalam bentangan sejarah kehidupan yang terus berputar. Ini artinya bahwa ternyata kita hidup butuh suatu kesiapan, baik itu kesiapan lahir dan bathin.

Bercermin dari kehidupan mereka yang sudah tercerahkan akan membuat kita bisa merefleksikan kehidupan ini dalam bentangan kesadaran. Mereka yang sudah tercerahkan selalu bersiap diri dalam menerima segala macam dan bentuk kenyataan yang mereka terima ditengah kehidupan. Bagi mereka yang diberikan kelebihan atas kehidupan akan menjadikan keberlimpahan itu sebagai modal untuk pelayanan kepada mereka yang membutuhkan. Inilah wajah kesyukuran yang sejatinya membentuk kedamaian dalam diri, pun juga menghadirkan ketenteraman bagi kehidupan orang lain.

Mereka yang telah diberikan jabatan tinggi selalu mengayomi dengan penuh kasih sayang. Jabatan tidak menjadikan mereka sombong dan lupa diri, tetapi jabatan itu mereka manfaatkan untuk bisa mengayomi sekaligus memberikan keteduhan bagi kehidupan orang lain. Jika sudah mampu mebuat orang lain teduh, maka sesungguhnya kitapun sudah merasakan keteduhan. Begitu pula mereka yang hidupnya dalam kekurangan, semua itu tidak menjadikan mereka menghasut kehidupan dan memberontak atasnya. Justru segala kekurangan itu mereka jadikan untuk melatih kesabaran, mereka sepenuhnya yakin bahwa suatu saat nanti tuhan akan memberikan anugrah berlipah ats kehidupan, karena sesungguhnya menjalaninya dengan penuh kesiapan dibarengi kesadaran akan dapat mengantarkan hidup ini dalam kebagahagiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar