Melihat perjalanan kehidupan kita sehari-hari, sesungguhnya akan
mengingatkan kita bahwa sejatinya hidup ini mengajarkan kita untuk
selalu mempersiapkan diri dalam kesiapan-kesiapan yang akan
menjadikan kita lebih mengenal arti kehidupan. Bagaimana tidak, dalam
hidup ini selalu menawarkan beragam konsekuensi yang memang harus
kita jalani tanpa kita bisa mengelak daripadanya. Mempersiapkan diri
atas segala konsekuensi berarti melatih kesadaran kita bahwa hidup
ini memang selayaknya dipersiapkan agar tidak terjadi kekecewaan
dibelakang hari. Jika kekecewaan menjadi sahabat kehidupan, hanya
tangis yang akan menyisakan sebuah kesedihan dan keterhinaan.
Tentu tidak seorangpun diantara kita yang mengingikan kesedihan itu
selalu membayangi hidup kita sepanjang masa. Bukankah kita hidup
untuk menggapai kebahagiaan dengan mencoba menapaki kesedihan, namun
pada akhirnya perjalanan ini membimbing kita untuk bisa merasakan
kebahagiaan yang selama ini kita impikan? Bukan menjalani kehidupan
yang berakhir pada sebuah ketersedihan.
Ada seorang sahabat pernah berpesan demikian; “ternyata tidak hanya
orang kaya yang butuh persiapan dalam menerima keberlimpahan, orang
miskin pun sebenarnya harus memiliki kesiapan dalam menerima segala
kekurangan yang ada.” Dalam hidup ini sudah ada yang mengaturnya,
semua orang pun tahu tentang hal itu, namun pada kenyataannya tidak
semua orang menyadari secara sepenuhnya apa yang semestinya sedang
berlaku atas apa yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Tahu.
Bagi mereka yang miskin tentu saja diberikan suatu bekal dalam
menjalani kehidupannya yang diwarnai dalam hidup penuh kekurangan,
namun sesungguhnya disanalah terlihat keberlimpahan kesadaran dalam
menerima kenyataan hidup, menerima kemiskinan dengan penuh lapang
dada, mereka yang miskin sesungguhnya kaya dengan kesabaran untuk
menerima kenyataan, penuh dengan sikap kecukupan pada pikiran atas
apa yang mereka miliki tanpa banyak menuntup apa-apa yang memang
tidak mampu untuk mereka hadirkan dalam kehidupan mereka disetiap
hari. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang membimbing untuk bisa
menerima kehidupan ini seperti apa adanya. Namun adakalanya diantara
mereka yang miskin tidak menyadari hal itu sehingga melahirkan sikap
pemberontakan dan menganggap bahwa hidup ini ternyata jurang yang
sangat dalam sekaligus menyisakan kesedihan.
Dilain pojokan kehidupan yang lainpun sedang bercerita demikian, bagi
mereka yang hidup dalam keberlimpahan tentu saja akan melahirkan
sikap kesyukuran atas nikmat tuhan yang begitu melimpah. Bagi mereka
yang memiliki keberlimpahan atas kehidupan, hidup ini akan terasa
lebih mudah, apapun yang mereka inginkan akan sangat mudah mereka
dapatkan, tentu hal ini layak untuk disyukuri. Namun ternyata
keberlimpahanpun berbicara berbeda jika kita tidak memupuk diri dalam
kesiapan penuh kesadaran untuk selalu membimbing diri.
Begitu banyak diantara mereka yang memiliki keberlimpahan telah jatuh
dalam jurang keterhinaan. Kekayaan yang semestinya menjadikan hidup
mereka lebih mudah, akan tetapi kekayaan itupun bisa berujung pada
sebuah keterhinaan yang menyisakan tangis kesedihan. Begitu banyaknya
kehidupan orang kaya diwarnai kekisruhan. Terkadang tidurpun harus
dibantu oleh terapis atau pil tidur agar mereka mampu merasakan tidur
nyenyak. Hal ini sungguh sangat ironis bukan? Namun begitulah
wajah kehidupan yang selayaknya patut untuk kita bercermin agar kita
tidak terjerumus dalam jurang keterhinaan.
Sahabat pembaca yang budiman, tentu saja hidup ini butuh persiapan,
bukan? Bagi mereka yang memiliki banyak kekurangan dalam kehidupannya
harus siap untuk menerima kenyataan dan penuh kesabaran untuk
menjalani kehidupan. Begitupula bagi mereka yang memiliki
keberlimpahan, tentu saja harus memiliki kesiapan untuk selalu
bersyukur atas kekayaan yang telah dikaruniakan tuhan. Adalah kita
sebagai manusia lebih sering digerogoti oleh pikiran-pikiran yang
sesunggunya mengantarkan kita pada kemelekatan. Misalnya saja dalam
kehidupan kita sehari-harinya; kita lebih sering menginginkan ini dan
itu tanpa menyesuaikannya dengan diri kita, apakah kita sudah
sepenuhnya siap menerima kenyataan jika hal apapun itu menjadi
pendamping kita dalam kehidupan ini.
Kita seringkali inginkan cepat-cepat kaya, namun setelah kaya kita
justru makin kehilangan kendali diri dan tidak mampu lagi merasakan
hidup dalam kesederhanaan sebagaimana dahulunya. Tentu hal ini
bukanlah anugrah, namun hakikatnya lebih tepat diistilahkan sebagai
suatu musibah karena apa yang sesunggunya saat ini sedang kita miliki
tidak menjadikan kita lebih mensyukuri karunia terindah atas apa yang
telah Tuhan berikan, namun ternyata keberlimpahan itu menjadikan
hidup kita semakin terjerumus dalam keterhinaan.
Dilain sisi kehidupan, kitapun seringkali inginkan cepat-cepat untuk
bisa naik pangkat, harapannya adalah tidak lain agar bisa dikenal
oleh orang lain, namun ternyata sepenuhnya kita belum memiliki
kesiapan untuk menerima kenyataan, entah itu kesiapan secara lahir
maupun kesiapan bathin, hingga pada akhirnya pangkat dan jabatan itu
kita memanfaatkan sebagai modal untuk mengumpulkan kekayaan,
menjadikan orang lain sebagai bawahan yang hanya layak untuk menuruti
segala keinginan, bukan lagi melihat bawahan sebagai rekan untuk
menopang kehidupan, disisi kehidupan yang lain juga begitu. Tentu
saja hal ini adalah musibah atas kehidupan.
Mungkin tidak sekarang kita merasakan impasnya, bisa jadi esok
ataupun lusa atau mungkin saja tahun depan. Tuhan tidak langsung
menghakimi atas apa yang sesunggunya sedang berlaku dalam kisah
perjalanan hidup ini, semua itu dimaksudkan agar kita menyadari
sepenuhnya apa arti kehidupan ini sehingga kita bisa mengubah pola
sikap dalam kehidupan kita disetiap harinya. Semua itu tentu butuh
kesiapan untuk bisa merealisasikannya dalam bentangan sejarah
kehidupan yang terus berputar. Ini artinya bahwa ternyata kita hidup
butuh suatu kesiapan, baik itu kesiapan lahir dan bathin.
Bercermin dari kehidupan mereka yang sudah tercerahkan akan membuat
kita bisa merefleksikan kehidupan ini dalam bentangan kesadaran.
Mereka yang sudah tercerahkan selalu bersiap diri dalam menerima
segala macam dan bentuk kenyataan yang mereka terima ditengah
kehidupan. Bagi mereka yang diberikan kelebihan atas kehidupan akan
menjadikan keberlimpahan itu sebagai modal untuk pelayanan kepada
mereka yang membutuhkan. Inilah wajah kesyukuran yang sejatinya
membentuk kedamaian dalam diri, pun juga menghadirkan ketenteraman
bagi kehidupan orang lain.
Mereka yang telah diberikan jabatan tinggi selalu mengayomi dengan
penuh kasih sayang. Jabatan tidak menjadikan mereka sombong dan lupa
diri, tetapi jabatan itu mereka manfaatkan untuk bisa mengayomi
sekaligus memberikan keteduhan bagi kehidupan orang lain. Jika sudah
mampu mebuat orang lain teduh, maka sesungguhnya kitapun sudah
merasakan keteduhan. Begitu pula mereka yang hidupnya dalam
kekurangan, semua itu tidak menjadikan mereka menghasut kehidupan dan
memberontak atasnya. Justru segala kekurangan itu mereka jadikan
untuk melatih kesabaran, mereka sepenuhnya yakin bahwa suatu saat
nanti tuhan akan memberikan anugrah berlipah ats kehidupan, karena
sesungguhnya menjalaninya dengan penuh kesiapan dibarengi kesadaran
akan dapat mengantarkan hidup ini dalam kebagahagiaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar