Senin, 19 Maret 2012

Woooiiii, Syurga Itu Buat Siapa Sich??? Mmmm, Siapa Yach ????*%&%#@

Seorang Pemuda yang baru saja menikmati minuman keras tergeletak lemas tak berdaya didepan sebuah tempat peribadatan. Laki-laki tersebut sudah tidak mampu bangkit lagi untuk berdiri, padahal hatinya sangat tersentuh saat mendengar Seruan yang menggema memeikik telinga dari dalam tempat peribadatan tersebut, menyerukan akan Kasih Sayang Tuhan kepada mereka yang mengharapkan ampunan dan rahmat Tuhan agar nantinya bisa dimasukkan kedalam Kebahagiaan abadi; yaitu syurga, mendengar Seruan bijak dari seorang pengkhotbah, seakan-akan penyesalam telah mencabik-cabik bathinnya agar kembali kejalan yang benar. Sebut saja namanya; Angga (Bukan Nama Aslinya), Laki-laki ini terus mencoba mendekati pintu gerbang masjid dengan menggerus tubuhnya yang telah terkulai lemas tak berdaya bak daun bayam yang dipanaskan diatas tungku perapian.

Tiba-tiba saja salah seorang jamaah yang melewati tempat tersebut melihat tubuh laki-laki ini lantas menghampirinya dan berucap, “Waaah, Bagaimana Allah akan menerima abang jika masuk tempat peribadatan dalam keadaan Mabuk kayak ginii. Abang sudah sekarat tuch. Mmmm, pintu neraka sudah kebuka buat abang. Menanti panggilan doank dech.” Cela Umar (Bukan Nama Aslinya) kepada Angga, seakan-akan ia muak melihat orang mabuk yang ingin masuk kedalam tempat peribadatan yang sangat dimuliakan. Karena jengkel, Umar mengambil batu kerikil dan melemparnya kewajah Angga yang sedang tergeletak diatas gundukan tanah.

Singkat cerita, Umar dan Angga bertemu dipengadilan akhirat, tepatnya didepan pintu syurga saat menunggu panggilan masuk dari petugas jaga. “Panggilan kepada saudara Angga dengan nomor punggung 1111 dipersilahkan memasuki Syurga.” Seru Petugas jaga dihadapan antrian panjang para calon penghuni syurga, Panggilan tersebut menggema memecah kesunyian antrian panjang seakan-akan menukik kesadaran setiap orang yang sedang dirundung harap-harap cemas dalam bathin mereka, menanti panggilan atas diri masing-masing. Mendengar Seruan dari Petugas Pintu Jaga Syurga.

Tiba-tiba saja Umar melempar nomor antrian yang ada ditangannya kearah wajah Petugas yang sedang berjaga sebagaimana tugas mereka. Umar tidak menerima hasil keputusan Petugas Syurga sesuai SK Kepala Syurga, karena merasa bahwa putusan Mailakat penjaga tidak adil, Umar mengomeli semua petugas jaga yang dianggapnya tidak becus dalam melaksanakan tugasnya. Dalam benaknya; hanya dirinyalah yang lebih pantas dipanggil terlebih dahulu ketimbang Angga, pemuda yang dahulunya memasuki tempat peribadatan dalam keadaan mabuk.

“Woooiii, apa nggak salah baca tuuuch? Lihat Pakai mata yang benar doonk! Coba diulangi lagi.” pinta Umar kepada petugas yang sedang sibuk merapikan berkas pelaporan dari Ridwan, Kepala Pintu Syurga yang telah ditugaskan secara resmi oleh Tuhan. “Mas, semua yang dibacakan disini sesuai keputusan. Kami hanya membacakannya sesuai urutan yang ada.” Jawab petugas pintu syurga dengan nada datar. “Waaaah, Ini jelas tidak adil. Ada penggelapan data nich. Saya yang seharusnya lebih pantas masuk Syurga terlebih dahulu. Coba saja lihat daftar ibadah saya. Semestinya orang baik seperti saya yang akan dipersilahkan terlebih dahulu.”

Dengan suara lantang, umar mengomeli petugas jaga, bahasa tubuhnya menampak keangkuhan dan kesombongan, menuduh Malaikat jaga berbuat curang dan memaki-maki semua petugas yang jaga saat itu dengan makian yang membuat merah telinga. Karena merasa terganggu denga ulah umar, petugas akhirnya meringkus tubuh umar dan menggiringnya ke loket sebelah, dimana Loket tersebut hanya diisi oleh calon penghuni neraka. Umar mencoba berteriak sekeras-kerasnya, sekonyong-konyong tubuhnya memberontak, tetap saja ia digiring ke loket Neraka. (Cerita diatas hanyalah Fiktif Belaka, Jika ada kesamaan tempat, tokoh dan peristiwa, hanyalah sebuah kebetulan belaka. Tidak ada maksud nian hati ini untuk menyakiti, Suer tie keweeer-keweeer dech. Sejatinya Hanya berharap kasih Tuhan melumuri jiwa kita semua dalam naungan cahaya Illahi yang menghadirkan damai disetiap hari)

Sahabat Pembaca Yang budiman sekaligus dikasihi Tuhan. Kita seringkali beranggapan bahwa ibadah kita-lah yang pantas diterima oleh Sang Pencipta. Kita seringkali didera oleh perasaan bangga diri, merasa telah melebihi orang lain dalam hal-hal kebaikan. Saat memberikan sumbangan, kita merasa bahwa sumbangan kita-lah yang paling besar nominalnya diantara yang lainnya. Kita seringkali beranggapan bahwa orang lain yang telah berbuat kesalahan akan pantas duduk ditungku perapian dineraka. Tentu saja berbuat baik adalah suatu perbuatan mulia, namun jika kebaikan bercampur kesombongan akan menumbuhkan pencitraan diri negative didepan Sang Pencipta.

Mungkin saja kasat mata manusia akan menilai kebaikan kita sebagai suatu perbuatan mulia, namun belum tentu demikian ceritanya dihadapan Sang Maha Kuasa. Kebaikan dinilai dari ketulusan hati serta kerendahan hati saat melakukan segala sesatu yang baik. Bukan karena besar sumbangan yang kita berikan kepada orang yang membutuhkan bantuan, bukan pula karena kita lebih sering menampakkan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan, sejatinya kebaikan yang indah itu jika disertai ketulus ikhlasan dan kerendah hatian karena berfokus hanya mengharapkan Rahmat Tuhan.

Disamping itupula, bukan karena kitalah orang yang pertama kali memenuhi setiap panggilan Sang kasih yang akan menerima reward dari tuhan dipengadilan akhirat kelak berupa syurga. Namun karena niatan baik untuk memberikan kesempatan kepada orang lain dalam menumbuhkan tunas kebajikan serta melangkah bersama dalam melestarikan kebaikan yang telah diajarkan dalam Kitab Suci; Kitab Cahaya, penerang bagi semua ummat manusia. Inilah ajaran yang mengagumkan, ajaran suci yang menghadirkan kedamaian dalam jiwa. Betapa seringnya kita bangga terhadap diri sendiri setelah mencitrakan perbuatan baik dihadapan orang lain karena berharap sesuatu yang lebih berupa pengakuan, dengan kemelekatan kesombongan inilah kita justru tergelincir kedalam kubangan bara api neraka.

Bukankah tuhan maha Tahu apa yang ada didalam sana? Bukankah kebaikan terkecil akan sangat mulia dimata Sang Pencipta jika diberikan secara tulus dan jauh dari rasa Sombong? Jika sudah demikian, tentulah tuhan membukakan pintu kebiakan dalam keseharian untuk menjadikan kita sebagai hamba pilihan. Keep spirit For Our Life Better.

Salam satu Jiwa. Salam Sehat Jiwa untuk Menggapai Hidup Bahagia.

Mustafid Amna Umary Erlangga Kusuma Perdana Saputra Zain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar